2020 Tahun Yang Buatku Trauma

 Siapa sangka semua kejadian bisa bertubi2 menghantam diriku? 

Masih ingat, tahun 2020 itu adalah saat ak alami kejadian terburuk

4 tahun sudah ak kerja di sebuah klinik kecantikan, yang sebelumnya sangat ak banggakan dan bener2 aku sayang banget. 

2016 kiranya ak join di klinik + , padahal waktu itu aku sebenernya sudah ada praktek di rumah, sudah ada pasien2 ke rumah. Tapi owner klinik + mengajakku untuk bisa join saham klinik dia. 

Dengan harapan aku bisa fokus untuk membesarkan nama klinik+ tersebut 

Dan singkat cerita, ak join karena ak berpikir jika ada teman bisa saling support. 

4 tahun ak habiskan waktu ku untuk membesarkan nama klinik+ tersebut yang tadinya omset di bawah 100 jt sampai bisa mencapai 1.5M sebulan. 

Masih ingat owner klinik+ tersebut bilang ke saya, kalau omsetnya stabil 150 jt sebulan aja dia uda sangat bersyukur. 

Tapi, siapa sangka sih akhirnya kearoganan owner itu membuatku harus memilih keluar? 

Di saat klinik ada masalah pasien, dan yang menuntut aja dari pihak klinik bukan pasien. 

Tapi malah saya yang dijadikan "kambing hitam"? 

Saya disuruh mengaku untuk di laporan kepolisian BAP bahwa saya yang menerima konsultasi pasien tersebut. Padahal di hari itu saya sedang cuti. 

Permasalahannya ada pasien yang menjelek2an klinik+, dokter konsultannya, pihak manajer, dan juga pihak resepsionis serta suster yang menangani pasien tersebut. 

Dan respon klinik+ itu malah membuat laporan senasib pasien tersebut krn pencemaran nama baik. 

Padahal saya sudah berusaha bilang, bagaimana kalau diajak ngomong untuk datang baik2 supaya keluhan pasien tersebut ditangani terlebih dahulu. 

Tetapi beliau tidak mendengarkan dan memilih untuk mensomasi dengan mengatakan kepada saya "Tenang aja v, ini cuma kasus facial kecil" 

Tapi endingnya.... 

Tanpa sepengetahuan saya, pihak klinik (suami owner, adik owner serta salah satu pemegang Saham klinik+) malah membuat laporan BAP di kepolisian Metro Jaya dan mencantumkan nama saya yang menerima pasien tersebut. 

Dan tanpa saya diberitahukan lagi, tiba2 diajak meeting dadakan dan mereka berkata kalau saya harus mengaku sebagai pihak dokter konsultasi tersebut. Padahal saya tidak pernah bertemu dengan pasien tersebut. 

Ketika saya menolak, malah dibilang kalau saya adalah pemberontak, tidak mendukung klinik+ tersebut. 

Malahan dibilang, "Silahkan keluar kalau kamu tidak punya hati pada klinik+ ini lagi" 

Apalg ketika saya menanyakan, siapa yang punya ide untuk saya sebagai tumbalnya? 

Malah dibilang itu sudah keputusan manajemen. 

Padahal saya adalah salah satu pemegang saham klinik+ tersebut. Tapi seakan2 mereka membuang saya dan dengan santai ya bilang, "Kalau sampai kamu ada apa2 kita juga ga akan mundur kok, kita tetap akan bantu kamu," 

Ya, seakan2 saya benar2 dipaksakan untuk berada di situasi bahwa saya harus jadi "saksi palsu" untuk membela klinik. 

Apalagi mereka bilang, "ini cuma kasus kecil. It's not a big deal" 

Helooo.. kalau ini hanya kasus kecil. Kenapa harus saya yg maju? Kenapa bukan ownernya saja yang maju, toh memang dia yg konsultasiin itu pasien kok. 

Di saat itu, tidak ada satupun dokter atau therapist atau suster yang berani membela saya. 

Malah mereka menyebutkan saya, dan mgkn berkata dalam hati "untung bukan kita" 

Malahan ketika saya memutuskan keluar pun ada yg bilang, "Kamu kalau keluar memang mau kerja di mana lagi yang bisa kasi kamu gaji sebesar di klinik+? " 

Apalagi manajer klinik+ yang dulu pernah saya bantu ketika dia lagi susah pun, malah ikut2an menyudutkan saya dan malah menjadi musuh dalam selimut 😊 

Disitu aku belajar banyak, mereka memberikan trauma terbesar dalam hidupku 

Dan aku sangat bersyukur skrg aku sudah lepas dari lingkaran setan tersebut 

Dan aku belajar lebih menghargai orang lain, sekalipun orang itu pendidikan rendah, janganlah sekali2 kita bisa menginjak2 mereka 

Karena mereka punya harga diri dan tidak semua orang bisa dibeli dengan uang 

Uang adalah segalanya dalam hidup. Tapi carilah uang dengan cara yang benar supaya hidup kita damai. 

Komentar